|
BERBINCANG DENGAN HUDAN HIDAYAT |
|
Oleh: Administrator
|
Ia ingin mengulangi lagi, bertemu dengan banyak orang: melakukan perjalanan. Hudan Hudayat pernah tak pulang ke rumah selama 2 tahun hanya untuk menjumpai segala kecemasan, main-main, dan kelucuan. Sebab di sanalah penciptaan bermula.
Tanggal 19 Juli 2008, ia mampir di Yayasan Umar Kayam (YUK). Sedianya, ia hendak berkunjung pada tanggal 18 Juli 2008, namun karena keberangkatan pesawat ditunda, ia mengurungkan niatnya. Sampai Yogyakarta terlalu larut sehingga lebih mudah mengarahkan taxinya ke penginapan daripada ke kantor YUK yang letaknya nylempit dan susah dicari. |
|
Selengkapnya
|
|
|
KOLABORASI SENI PERTUNJUKAN |
|
Oleh: Administrator
|
Masih di hari yang sama (13 Agustus 2008), BKPBM (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu) juga kedatangan tamu dari Yayasan Umar Kayam (YUK), Yogyakarta, yang berencana menyelenggarakan kolaborasi seni pertunjukan. Direktur YUK, Kusen Alipah Hadi, yang didampingi oleh Slamet Tohari, staf YUK, menyatakan bahwa ke depan YUK memiliki agenda pementasan seni pertunjukan sebagai upaya mempertemukan berbagai ekspresi kebudayaan.
|
|
Selengkapnya
|
|
|
Oleh: Khairunissa
|
Membaca novel sastra bagi sebagian besar anak muda mungkin membosankan, namun beruntung bagi saya yang dilahirkan dari seorang Ayah yang seniman dan pecinta karya sastra, sedari kecil sudah diajarkan bagaimana cara menikmatinya, tidak heran jika saya bisa menyukainya hingga saat ini.
Di beberapa media, ulasan mengenai “Perfume” karya Patrick Suskind memang fenomenal, dari beberapa blog yang pernah saya baca di internet, banyak komentator yang menilai, novel tersebut sebagai sebuah karya sastra genius.
Ketertarikan saya dengan novel ini, bermula dari sebuah artikel di harian Kompas edisi Minggu setahun yang lalu. Ketika itu disebutkan “Perfume” telah membuat kagum kritikus sastra di Amerika dan Eropa, terjual lebih dari 15 juta kopi, dan menyebutnya sebagai novel bestseller sepanjang 2007.
|
|
Selengkapnya
|
|
|